Oleh : Suhartono,S.Pd,M.Pd.
1. Awal Pergerakan Samin: Dari Blora dan Bojonegoro
Pada akhir abad ke-19, Samin Surosentiko (nama asli: Raden Kohar) lahir di Ploso Kedhiren, Blora. Ia memiliki hubungan darah dengan tokoh-tokoh di Bojonegoro, seperti Kyai Keti, dan penguasa daerah Sumoroto (sekarang Tulungagung) .
Sekitar tahun 1890, Samin mulai menyebarkan ajaran Saminisme di Klopoduwur, Blora. Gerakannya berkembang dengan cepat: hingga 1903, sudah meluas ke 34 desa di sekitar Blora dan sebagian Bojonegoro, dengan pengikut mencapai 772 jiwa .
Saminisme bukan perlawanan bersenjata, melainkan aksi damai: boikot pajak, menolak kerja paksa, dan mempertahankan hak tradisional atas tanah dan hutan jati .
2. Penyebaran ke Pati dan Bentuk Perlawanan di Wilayah Lain
Setelah penangkapan Samin pada 1907 dan pengasingannya ke Padang, ajaran Samin terus menyebar. Pada 1911, menantunya Surohidin dan pengikut Engkrak membawa Saminisme ke Grobogan, sedangkan Karsiyah menyebarkannya ke Kajen, Pati .
Tahun 1912, ada upaya menyebarkan ke Tuban dan Jatirogo, meski tidak berhasil . Pada puncak “Geger Samin” tahun 1914, di Pati (Kajen dan Desa Larangan), pengikut Samin secara terbuka menolak pajak bahkan menyerang pamong desa dan polisi .
3. Nilai Saminisme: Perlawanan Damai, Kejujuran, dan Kebersamaan
Inti ajaran: kejujuran, welas asih, tanggung jawab, hidup sederhana, dan penolakan terhadap sistem kolonial yang menindas .
Saminisme diterapkan tanpa kekerasan, sebagaimana Gandhi di India. Nilai ini masih dihormati di Pati bahkan kini .
4. Prahara Pati 2025: Bayangan Saminisme yang Bangkit Kembali
Pada 13 Agustus 2025, ratusan hingga ribuan warga Pati unjuk rasa menolak kenaikan PBB hingga 250 % sebuah kebijakan yang dianggap memiskinkan warga .
Aksi ini bukan sekadar tuntutan fiskal, melainkan refleksi memori kolektif akan perlawanan Samin: menolak pajak yang dianggap tidak adil dan menegakkan hak rakyat terhadap pemerintah yang tak sensitif .
Bahkan, saat Bupati muncul dan meminta maaf lewat mobil polisi, warga bereaksi dengan teriakan dan lemparan sandal menunjukkan kedalaman kekecewaan dan semangat perlawanan yang menular .
5. Dari Pati ke Presiden: Keyakinan pada “Lengsernya” Pemimpin yang Menzalimi Rakyat
Warisan Saminisme saat ini hidup sebagai simbol bahwa pemimpin yang melawan rakyat bisa “lengser” lewat tekad kolektif sebuah narasi kuat yang membayang dalam sektor lokal hingga nasional.
Gejolak di Pati menyiratkan sorotan bahwa keputusan tak pro-rakyat bisa berubah menjadi momentum politik yang luas, bahkan untuk mengguncang figur di level lebih tinggi.
6. Kesimpulan & Renungan
Gerakan Saminisme, awalnya berkembang dari Blora dan Bojonegoro serta menyebar ke Pati dan wilayah lain, menyampaikan pesan bahwa perlawanan bisa dilakukan tanpa kekerasan melalui nilai, solidaritas, dan tekad moral. Warisan ini bukan sekadar sejarah, tetapi inspirasi hidup yang menyalakan perlawanan mutakhir terhadap kebijakan tidak adil.
Puncak gejolak di Pati pada Agustus 2025 adalah bukti bahwa ingatan kolektif terhadap tokoh seperti Samin Surosentiko masih hidup, dan memiliki kekuatan untuk menggoyahkan pemimpin yang “melawan” rakyat. Semangat ini menggemakan salah satu pilar terbesar demokrasi: ketika rakyat bersatu, tak ada seorang pun yang terlalu besar untuk tidak dituntut pertanggungjawabannya. (Sumber Referensi Direktorijateng.id dan Wikipedia Indonesia.org).




